Wayang kulit adalah seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Jawa. Wayang berasal dari kata 'Ma Hyang' yang artinya menuju kepada roh spiritual, dewa, atau Tuhan
Yang Maha Esa. Ada juga yang mengartikan wayang adalah istilah bahasa
Jawa yang bermakna 'bayangan', hal ini disebabkan karena penonton juga
bisa menonton wayang dari belakang kelir atau hanya bayangannya saja.
Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong),
sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat
melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. Untuk dapat memahami cerita
wayang (lakon), penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar.
Secara umum wayang mengambil cerita dari naskah Mahabharata dan Ramayana, tetapi tak dibatasi hanya dengan pakem (standard) tersebut, ki dalang bisa juga memainkan lakon carangan (gubahan). Beberapa cerita diambil dari cerita Panji.
SEJARAH KESENIAN WAYANG KULIT
Sejarah asal usul kesenian wayang kulit, seperti disebut diatas, tidak bisa lepas dari sejarah wayang sendiri. Tidak ada bukti konkret tentang adanya wayang sebelum abad pertama, dimana ini bertepatan dengan munculnya ajaran Hindu dan Buddha ke area Asia Tenggara. Hal ini dipercaya menjadi hipotesa bahwa seni ini datang dari India ataupun Tiongkok, dimana kedua negara tadi memiliki tradisi yang telah berjalan turun-temurun tentang penggunaan bayangan boneka atau pertunjukkan teater secara keseluruhan. Jivan Pani juga pernah mengeluarkan pendapat bahwa wayang berkembang dari dua jenis seni yang berasal dari Odisha, India Timur, yaitu Ravana Chhaya yang merupakan sebuah teater boneka dan tarian Chhau. Meski begitu, banyak juga penceritaan sejarah wayang yang memiliki dampak besar terhadap perkembangan teater boneka tradisional.
Catatan sejarah pertama tentang adanya pertunjukkan wayang mengacu
pada sebuah prasasti yang bisa dilacak berasal dari tahun 930, yang
mengatakan si Galigi mawayang. Saat itulah sampai sekarang, beberapa
fitur teater boneka tradisional tetap ada. Galigi sendiri merupakan
seorang penampil yang sering dimintai untuk menggelar pertunjukkan
ketika ada acara atau upacara penting. Pada saat itu, ia biasanya
membawakan sebuah cerita tentang Bima, seorang ksatria dari kisah
Mahabharata. Penampilan yang dibawakan oleh Galigi tercatat dalam
kakawin Arjunawiwaha yang dibuat oleh Mpu Kanwa pada tahun 1035 yang
mendiskripsikannya sebagai seorang yang cepat, dan hanya berjarak satu
wayang dari Jagatkarana. Kata jagatkarana merupakan sebuah ungkapan
untuk membandingkan kehidupan nyata kita dengan dunia perwayangan,
dimana Jagatkarana yang berarti penggerak dunia atau dalang terbesar
hanyalah berjarak satu layar dari kita.
Memang tidak banyak literatur yang menjelaskan tentang sejarah asal usul kesenian wayang kulit,
meski begitu salah satu anak bagian dari seni wayang ini telah diakui
sebagai karya kebudayaan yang amat berharga di bidang narasi oleh UNESCO
di tanggal 7 November 2003. Hal ini mungkin menjadi pertimbangan bagi
UNESCO karena dari seluruh jenis wayang yang ada, wayang kulit merupakan
salah satu jenis wayang yang paling dikenal di Indonesia. Wayang ini
terbuat dari kulit hewan yang menjadi bahan utama jenis wayang yang
digunakan dalam pertunjukkan ini.
Dalam cerita wayang Jawa, hidup sebuah keluarga karakter yang disebut
Punakawan. Punakawan ini terdiri dari empat orang dan selalu dianggap
sebagai pengikut jenaka dari pahlawan yang menjadi karakter utama sebuah
cerita. Keempat orang ini adalah Semar yang juga dikenal dengan nama Ki
Lurah Semar, Petruk, Gareng, dan juga Bagong. Semar sendiri sering
digambarkan sebagai personifikasi dewa, dan kadang juga digambarkan
sebagai arwah penjaga dari pulau Jawa
itu sendiri. Dalam mitologi Jawa, dewa-dewa yang ada hanya mampu
mengubah diri mereka menjadi manusia yang jelak, karena ini juga Semar
selalu digambarkan sebagai seseorang yang jelek dan gendut, serta
memiliki hernia yang menggantung.
Dalam sejarah asal usul kesenian wayang kulit,
wayang kulit sendiri terbagi menjadi beberapa jenis dan satu di
antaranya adalah wayang kulit Gagrag Banyumasan. Untuk wayang kulit
jenis ini adalah sebuah gaya pedalangan yang juga dikenal dengan nama
pakeliran. Gaya ini dinilai sebagai cara untuk mempertahankan nilai,
dimana perawatan dan kualitas yang mereka tunjukkan di panggung selalu
menunjukkan hal ini. Unsur-unsur yang ada dalam pakeliran adalah: lakon,
sabet (gerakan yang akan dilakukan oleh para wayang), catur (narasi dan
percakapan antara karakter), serta karawitan yang berarti musik.
Contoh lain dari pembagian jenis wayang kulit lainnya wayang kulit
Banjar, yang sesuai namanya berkembang di Banjar, Kalimantan Selatan.
Masyarakat kerajaan Banjar awalnya memang telah mengenal seni wayang
kulit ini dimulai dari awal abad ke-14. Pernyataan ini menjadi jauh
lebih kuat ketika Majapahit akhirnya berhasil menduduki beberapa bagian
wilayah Kalimantan dan membawa misi untuk menyebarkan agama Hindu
menggunakan taktik untuk mengadakan pertunjukan wayang kulit.
Contoh lain lagi ialah wayang siam yang terkenal di Kelantan,
Malaysia. Wayang Siam sendiri merupakan sebuah pertunjukkan wayang one
man show, dimana bahasa-bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu. Dari
awal, tidak ada bukti yang jelas tentang kemunculan pertama wayang
siam, jadi orang-orang berpendapat bahwa kesenian ini berasal dari jawa,
mengikut simbol-simbol yang sangat bercorak Jawa.

0 komentar :